SELAMAT DATANG!!!
Hadir dengan informasi pendidikan, kewarganegaraan, seputar guru, pembelajaran, artikel dan penelitian (PTK). Bagi siswaku, web ini merupakan papan tulis online, bagi rekan guru: take and give. Selamat Belajar!!!

Senin, 14 Januari 2013

MENTERI PENDIDIKAN DARI MASA KE MASA

No
Nama
Periode
1
Ki Hadjar Dewantara
Menteri Pengajaran Kabinet Presidentil
Periode : 19 Agustus – 14 November 1945
2
Dr.Mr.T.S.G. Mulia
Menteri Muda Pengajaran Kabinet Syahrir I
Periode : 14 November 1945 – 12 Maret 1946
Menteri Muda Pengajaran Kabinet Syahrir II
Periode : 12 Maret – 2 Oktober 1946
3
Mohammad Sjafei
Menteri Pengajaran Kabinet Syahrir II
Periode : 12 Maret – 2 Oktober 1946
4
Mr. Suwandi
Menteri Pengajaran Kabinet Syahrir III
Periode : 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947
5
Ir.R. Gunarso
Menteri Muda Pengajaran Kabinet Syahrir III
Periode : 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947
6
Mr. Ali Sastroamidjojo
Menteri Pengajaran Kabinet Amir Syarifuddin I
Periode : 3 Juni – 11 November 1947
Menteri Pengajaran Kabinet Amir Syarifuddin II
Periode : 11 November 1947 – 29 Januari 1948
Menteri PP dan K Kabinet hatta I
Periode : 29 Januari – 4 Agustus 1949
7
Mr. Teuku Moh. Hasan
Menteri PP dan K Kabinet Darurat
Periode : 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
8
S. Mangunsarkoro
Menteri PP dan K Kabinet Hatta II
Periode : 4 Agustus – 20 Desember 1949
Menteri PP dan K Kabinet Peralihan
Periode : 20 Desember 1949 – 21 Januari 1950
Menteri PP dan K Kabinet RI Yogyakarta
Periode : 21 Januari – 6 September 1950
9
Letjen TNI Dr. Teuku Syarif Thayeb
Menteri PTIP Kabinet Dwikora
Periode : 27 Agustus 1964 – 21 Febuari 1966
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan II
Periode : 27 Januari 1974 – 31 Maret 1978
10
Dr. Daud Joesoef
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan III
Periode : 31 Maret 1978 – 19 Maret 1983
11
Prof. Dr. Nugroho Notosusanto
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan IV
Periode : 19 Maret 1983 – 1985
12
Prof. Dr. Faud Hassan
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan IV
Periode : 30 Juli 1985 – 21 Maret 1988
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan V
Periode : 21 Maret 1988 – 17 Maret 1983
13
Prof. Dr. –Ing. Wardiman Djojonegoro
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan VI
Periode : 17 Maret 1993 – 17 Maret 1998
14
Prof. Dr. Wiranto Aris Munandar
Menteri P dan K Kabinet Pembangunan VII
Periode : 17 Maret – 21 Mei 1998
15
Prof. Dr. Juono Soedarsono
Menteri P dan K Kabinet Reformasi
Periode : 21 Mei 1998 – 1 November 1999
16
Dr. Yahya Muhaimin
Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Persatuan Nasional
Periode : 1 November 1999 - 2001
17
Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M. Sc.
Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong
Periode : 2001 – 21 Oktober 2004
18
Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA.
Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu I
Periode : 23 Oktober 2004 – 20 Oktober 2009
19
Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Bersatu II
Periode : 20 Oktober 2009 - Sekarang

STRUKTUR KURIKULUM 2013

Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012) keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum --termasuk pembelajaran-- dan penilaian pembelajaran dan kurikulum.
Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum, menjadi amat penting. Karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.
iklan4-gbr1
iklan4-tabel1
iklan4-tabel2
Pada titik inilah, maka penyampaian struktur kurikulum dalam uji publik ini menjadi penting. Tabel 1 menunjukkan dasar pemikiran perancangan struktur kurikulum SD, minimal ada sebelas item. Sementara dalam rancangan struktur kurikulum SD ada tiga alternatif yang di mesti kita berikan masukan.

iklan4-tbl2 Di jenjang SMP usulan rancangan struktur kurikulum diperlihatkan pada tabel 2. Bagaimana dengan jenjang SMA/SMK? Bisa diturunkan dari standar kompetensi lulusan (SKL) yang sudah ditentukan, dan juga perlu diberikan masukan.
Tiga Persiapan untuk Implementasi Kurikulum 2013
ADA pertanyaan yang muncul bernada khawatir, dalam uji publik kurikulum 2013? Persiapan apa yang dilakukan Kemdikbud untuk kurikulum 2013? Apakah sedemikian mendesaknya, sehingga tahun pelajaran 2013 mendatang, kurikulum itu sudah harus diterapkan. Menjawab kekhawatiran itu, sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda Kementerian untuk implementasi kurikulum 2013. Pertama, berkait dengan buku pegangan dan buku murid. Ini penting, jika kurikulum mengalami perbaikan, sementara bukunya tetap, maka bisa jadi kurikulum hanya sebagai “macan kertas”.
Pemerintah bertekad untuk menyiapkan buku induk untuk pegangan guru dan murid, yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dengan lainnya.
Kedua, pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara bertahap, maka pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu, empat di jenjang SD dan kelas tujuh, di SMP, serta kelas sepuluh di SMA/SMK, tentu guru yang diikutkan dalam pelatihan pun, berkisar antara 400 sampai 500 ribuan.
Ketiga, tata kelola. Kementerian sudah pula mnemikirkan terhadap tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Karena tata kelola dengan kurikulum 2013 pun akan berubah. Sebagai misal, administrasi buku raport. Tentu karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan, maka buku raport pun harus berubah.
Intinya jangan sekali-kali persoalan implementasi kurikulum dihadapkan pada stigma persoalan yang kemungkinan akan menjerat kita untuk tidak mau melakukan perubahan. Padahal kita sepakat, perubahan itu sesuatu yang niscaya harus dihadapi mana kala kita ingin terus maju dan berkembang. Bukankah melalui perubahan kurikulum ini sesungguhnya kita ingin membeli masa depan anak didik kita dengan harga sekarang
(Sumber: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-4 ]20 December 2012 11:38:07)

UJI PUBLIK KURIKULUM 2013 ( Tidak Menghapus Mata Pelajaran)

Ada kekhawatiran pada masyarakat jika Kurikulum 2013 diterapkan akan ada penghapusan beberapa mata pelajaran. Kekhawatiran ini dijawab Mendikbud Mohammad Nuh, bahwa tidak ada penghapusan mata pelajaran, yang ada hanya pengintegrasian mata pelajaran.
Mata pelajaran IPA dan IPS di sekolah dasar (SD) diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Pengintegrasian ini dilakukan karena penting, serta menyesuaikan zaman yang terus mengalami perkembangan pesat.
Hadirnya kurikulum baru bukan berarti kurikulum lama tidak bagus. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013.
iklan3-gbr1
iklan3-gbr2
Gambar 1 dan gambar 2 menunjukkan kerangka komptensi abad 21 yang menjadi dasar di dalam pengembangan kurikulum 2013.
iklan3-gbr3
iklan3-gbr4
iklan3-gbr5
Ada empat standar dalam kurikulum yang mengalami perubahan, meliputi standar kompetensi lulusan, proses, isi, dan standar penilaian. Terhadap perubahan itulah maka rumusan standar kelulusan (SKL) pun berubah. Gambar 3 menunjukkan ruang lingkup SKL. Sedang gambar 4 dan gambar 5 berturut-turut tentang SKL Rinci dan SKL Ringkas (LPMP Jatim)

Selasa, 08 Januari 2013

KURIKULUM 2013: GURU DIMANJAKAN, TIDAK USAH MENYUSUN SILABUS!

Implementasi yang tidak tuntas KTSP menyebabkan pemerintah mempunyai penilaian lain terhadap kemampuan guru. Beragamnya tingkat kemampuan membuat guru dalam membuat perangkat pembelajaran bervariasi sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. Termasuk pada hal yang paling esensial, yaitu membuat silabus. Pada KTSP, silabus diserahkan oleh guru, menghasilkan beragam rupa silabus. Pemerintah atau Kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) akan mengambil alih pembuatan silabus pada kurikulum 2013. Alasan silabus akan disusun oleh Kemendikbud karena pelaksanaan kurikulum sebelumnya yaitu KTSP di lapangan selama ini masih kedodoran. Ini disebabkan oleh kemampuan guru yang beragam dalam membuat silabus.  Bahkan ada guru yang tidak bisa menyusun silabus, kalau dipaksakan akan menghasilkan silabus yang buruk.

Pada kurikulum baru yang akan diterapkan Juni 2013, guru tak perlu repot-repot lagi untuk membuat silabus untuk pengajaran terhadap anak didiknya. Slabus merupakan program pembelajaran yang akan dijadikan dasar untuk membuat rencana pembelajaran. Pembahasan silabus sendiri sudah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud pada awal Desember. Penyusunan silabus melibatkan para guru, dosen dan ahli pendidikan. Setelah silabusnya rampung disusun, selanjutnya dilakukan proses penggandaan buku pelajaran.

KTSP memberikan peluang kepada sekolah dan guru untuk menyusun silabus dan menjalankan proses pembelajaran dianggap membuat pengawasan dan kontrol pendidikan jadi sulit. Kurikulum yang saat berjalan membuat sekolah dan guru berwenang menyusun silabus dan menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan cara yang diketahuinya sendiri-sendiri.

Ekses buruk bila KTSP dilanjutkan akan muncul beragamnya kemampuan guru dalam menyusun silabus menyebabkan banyak bermunculannya Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan konten tak sesuai yang berdampak pada anak didik. Itu disebabkan kemampuan guru dalam membuat soal latihan untuk anak didik kadang terbatas sehingga menggunakan LKS sebagai pilihannya.
Bagaimana dengan Anda? Senang?

Senin, 07 Januari 2013

TEKNOLOGI INFORMASI DAN PERADABAN

Regenerasi sebuah bangsa bernilai peradaban. Peradaban bangsa bernilai cultur yang cakupannya lokal kebangsaan, artinya wajah bangsa ini sesungguhnya tak lepas dari nilai-nilai sosio-budaya, adat-istiadat dan kondisi global bangsa lainnya. Jika terjadi proses regenerasi, maka seharusnya esensi cultur harus tetap nampak dan dikenali.

Pengaruh besar diberikan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan sebagai wadah, sedangkan teknologi merupakan sarana memahami ilmu pengetahuan. Bila demikian, maka teknologi dominan dalam memberi pengaruh pada generasi bangsa. Didukung oleh perkembangan gengsi-teknologi, rasanya dunia ini sepi tanpa teknologi. IT (Teknologi Informasi) memberikan sumbangan terbesar dalam hal ini.

Perkembangan IT dari sisi soft maupun hard sungguh luar biasa. Dua keluarga multimedia itu seolah saling melengkapi dan bersahabat, saling adaptasi melengkapi satu dengan lainnya. Dari perkembangan soft teknologi saja tercatat tidak kurang dari 10 operating system memberi kontribusi akselerasi transformasi. Soft teknologi tersebut melengkapi keberadaan hard teknologi yang berkembang.

Lokalisasi peminat sungguh terarah dan terlengkapi, mulai dari yang sekedar punya hobi, sampai kalangan profesi. Dari usian manula sampai yang muda, semua turut serta dalam lingkaran IT. Dari sekian soft-teknologi yang mendunia saat ini adalah fungsi publikasi dari teknologi tersebut. Segmen ini ditanggapi serius. Para pakar berlomba memenuhinya dengan gratis. Mulai dari YM, Skype, Facebook, Twetter dan lainnya. Kehadirannya diadaptasi oleh perkembangan hard-soft, mulai windows, android, dan lainnya.

Dari sekian soft-teknologi yang paling populer adalah facebook dan tweeter. Facebook sangat dominan memberikan pengaruh. Karena berupa jejaring sosial. Dan adaftif bagi semua kalangan usia dan profesi. Jejaring sosial memberikan pengaruh luar biasa pada warna generasi bangsa di semua belahan dunia. Pranata sosial ikut terbawa dalam setiap arus jejaring ini. Multi kulture hampir sepenuhnya masuk dalam kancah maya. Dibaca, ditanggapi dan memberikan kontribusi pengaruh mentalitas trans-internasional.

Teknologi dan peradaban seolah seiring berjalan, peradaban manusia ditopang dengan keberadaan teknologi, padahal keduanya saling terpisah. Peradaban syarat dengan nilai (value) sosial dan humanisme, sementara teknologi bebas dari nilai.. Teknologi hanyalah sebuah alat sebagai media. Karena itu ada beberapa sikap yang mesti kita lakukan, adapun sikap yang perlu ditampilkan oleh manusia ketika menghadapi teknologi, yaitu:
  • Menerima secara totalitas (tanpa filterisasi)
  • Menerima dengan filterisasi
  • Menolak mentah-mentah
Dari ketiga sikap diatas, ada dua kutub ekstrim sikap penerimaan, yang satu menerima secara membabi  buta (totalitas),  dan yang satu lagi menolak mentah-mentah.
Sikap yang baik adalah dengan memilah-milah terlebih dahulu, manakah yang sesuai dengan nilai-nilai humanisme yang kita yakini dan mana yang tidak. Menghadapi seperti ini manusia harus memegang pedoman norma, paling utama norma agama. Maka apabila seorang ilmuan, engineer, mahasiswa, dan sebagainya, berpegang teguh dengan norma agama, maka teknologi yang dihasilkan niscaya berguna untuk semesta alam, rahmatan lil 'alamin. Di sekolah, guru PPKn berperan memahamkan hal seperti ini. (Tetuko JP)



Kamis, 03 Januari 2013

AKTIFITAS KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH

Menpresentasikan kegiatan kewarganegaraan disekolah belum dilakukan di Indonesia. Yang ada proses belajar dan eksplorasi lingkungan wiyata mandala, itupun sebatas kegiatan berlabel masa orientasi. Bagaimana menciptakan komunitas sekolah sebagai lingkungan biasa dan berkenan pada anak-anak?

Untuk itu sekolah dapat menawarkan siswa berbagai kesempatan untuk mengembangkan keterampilan mereka untuk berpartisipasi lebih lengkap dalam masyarakat dengan project action di sekolah. Di Bondowoso, sekolah favoritpun belum melaksanakan hal ini, sekolah favorit masyarakat tak ubahnya sebagai tempat yang terbatas dengan keunggulan. Sehingga potret kehidupan masyarakat umumnya tidak tercermin sama sekali. Tali RSBI ataupun apa bentuknya merefleksikan secriditas internal membuat takut masyarakat untuk memasukinya.

Dalam upaya untuk menciptakan pendekatan yang positif untuk warga lokal dan global (masyarakat umum), project masyarakat global bisa dimulai pada masa SMP yang seharusnya sudah dimulai sejak SD (usia 6 tahun). Sebagai ilustrasi kegiatan, setidaknya gambaran berikut ini menuntun pemikiran kita pada kegiatan tersebut:

Kegiatan ini bisa melibatkan OSIS maupun berdiri sendiri sebagai poject khusus sekolah, beri kesempatan pada beberapa siswa yang telah matang sosialnya memimpin kelompok sekitar 12-15 siswa dengan usia yang setara. Kemudian konseplah bentuk kegiatan yang bertemakan keterampilan social. Contohnya adalah mengumpulkan teman-temannya dalam kelompok tersebut, membantu dan merawat mereka yang sakit, membantu teman menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, menjadi tutor sebaya, mengadakan pembicaraan sekitar kesulitan teman-temannya, dan kegiatan sejenis itu. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman, sikap dan keterampilan untuk menjalani gaya hidup yang aman dan sehat, untuk mewujudkan potensi mereka sendiri dan memberikan kontribusi positif kepada kelompoknya (baca masyarakat sekolah)


Pola kegiatan tersebut dipantau (tidak usah dibimbing) dalam kegiatan tersebut hendaknya memperhatikan dan mengacu pada perspektif kesetaraan gender dan pendidikan multikultural. Kesetaraan gender dimaksudkan agar ada penghargaan pada gender yang akhir-akhir ini cenderung menurun. Peran gender sangat penting, untuk memperoleh kesepadanan peran social. Sedangkan pendidikan multicultural ditujukan untuk lebih memvariasikan jenis kegiatan tersebut. Pendidikan multicultural akan memahamkan pada anak tentang bagaimana proses pendidikan sebenarnya berjalan dengan latar masing-masing. Dengan memperhatikan 2 perspektif di atas, baik gender maupun pendidikan multicultural maka project ini akan memperoleh arti yang luar biasa bagi terwujudnya aktifitas kewarganegaraan yang direncanakan.

Masih berlanjut pada gambaran kegiatan di atas, dalam proses pelaksanaanya, pemimpin kelompok yang telah ditunjuk, dilatih di dua tempat pelatihan yang direncanakan. M
isalnya 2 hari kegiatan. Memperkuat kegiatan tersebut, hendaknya diberi pengukuhan peran pada masing-masing peserta. Contohnya dengan memberikan reinforcement berupa sertifikat.  Dalam proses, dihadirkan beberapa tokoh masyarakat, baik dari kalangan praktisi maupun birokrasi. Misalnya mengundang anggota DPR Kab. Bondowoso untuk acara pembukaanya. Diharapkan tokoh tersebut mampu menggugah peran kewarganegaraan siswa. Serta mampu menegaskan pentingnya kepemimpinan dan tanggung jawab dalam hidup berwarganegara. Birokrat yang diundang hendaknya dapat merefleksikan  makna kegiatan tersebut, pengalaman-pengalaman yang dimiliki, dan lainnya. 



Project tersebut dilaksanakan sepanjang masa belajar siswa. Kalau SMP berarti 3 tahun. Tiap tahun berjalan diadakan evaluasi dan tindak lanjut yang relevan. Peran masing-masing guru bidang studi dapat memberikan actualisasi nilai pada proses evaluasi tersebut. Tiap masa 1 tahun berjalan, pola hubungan ditingkatkan dengan mengembangkan hubungan yang lebih variatif, misalnya melibatkan multi usia sekolah. Gambaran progress akan menunjukkan pada peningkatan kepedulian dan tanggung jawab siswa. Demikian juga, anggota yang lain akan terlihat kepercayaan dan rasa hormat pada teman lainnya, harga diri siswa juga akan semakin meningkat seiring peran yang diberikan. Hasil lengkap pada tahun ke-3 ketika siswa hamper lulus dapat dilihat nilai positif dari tujuan kegiatan ini. 


Dampak kegiatan tersebut secara internal maupun eksternal dapat dirasakan. Secara internal, OSIS sebagai legal formalnya organisasi tingkat sekolah juga semakin meningkat (kena dampak), sedangkan secara eksternal akan memberikan dampak pada persepsi anak terhadap sekolah bila sudah berada dilingkungan rumahnya masing-masing. Luar biasanya, untuk daerah yang ber APP rendah seperti Bondowoso, akan sangat membantu orang tua memperoleh pemahaman penting tentang arti pendidikan formal. Anakpun akan semakin giat membantu orang tua dalam kegiatan di rumah.
Ini konsep, karena itu butuh aplikasi. Dapat dijalankan pada lingkungan sekolah yang variatif. Di era pendidikan dengan nuansa demokratisasi seperti Indonesia ini, layak kiranya dijadikan sebagai kegiatan intrakurikuler tambahan. Juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk penilaian diri siswa dalam mengembangkan potensi sesuai dengan yang diharapkan. Mudah-mudahan. (Tetuko J Pamungkas).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes
Tetukoinposting.com: Ujian nasional tidak berhasil,pukulan telak bagi sertifikasi guru. Bukan tidak mungkin seluruh elemen masyarakat akan mempertanyakan kinerja guru dengan diberikanya tunjangan sertifikasi. Iklim tidak baik ini hendaknya disikapi dengan penuh kearifan untuk memperbaiki kinerja guru.